Keputihan Pada Wanita Normal atau Tidak ?

Jumat, 29 Juli 2011
Bagi kaum hawa istilah keputihan pasti sudah tidak asing lagi. Keputihan dapat terjadi pada setiap wanita tanpa memandang usia. Diperkirakan tiga perempat wanita di dunia mengalami keputihan setidaknya sekali seumur hidupnya. Lalu apakah keputihan yang dialami wanita itu normal atau tidak normal ?
Keputihan yang dalam istilah medis disebut fluor albus atau leucorrhoea merupakan cairan yang keluar dari vagina selain darah menstruasi. Produksinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor hormonal, rangsangan seksual, kelelahan fisik dan kejiwaan (stress) serta adanya benda asing. Cairan yang keluar tersebut harus dibedakan antara cairan yang normal dan cairan yang tidak normal.
Dalam keadaan normal, cairan yang keluar berwarna jernih, tidak berbau, dan tidak gatal atau pedih. Secara alamiah cairan ini diperlukan sebagai pelumas. Jumlah cairan yang keluar bisa sedikit atau cukup banyak. Keluarnya cairan dianggap normal jika terjadi sebelum dan sesudah menstruasi, saat ovulasi dan saat mendapat rangsangan seksual. Namun, bila cairan yang keluar jumlahnya banyak, berwarna putih kekuningan atau kehijauan, disertai rasa gatal atau pedih, dan terkadang berbau amis atau busuk, maka ini dapat dikategorikan tidak normal.
Keputihan seringkali dianggap sebagai hal yang umum dan sepele bagi wanita. Di samping itu, rasa malu ketika mengalami keputihan kerap membuat wanita enggan berkonsultasi ke dokter. Padahal, keputihan tidak normal karena infeksi yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Ada beberapa penyebab keputihan yang tidak normal, salah satunya adalah Trichomoniasis atau infeksi akibat parasit Trichomonas vaginalis.
Parasit Penyebab Keputihan
Trichomonas vaginalis adalah parasit yang biasanya menyerang saluran kemih dan kelamin manusia yang terinfeksi. Infeksi parasit ini dapat menyerang baik pria maupun wanita, tetapi frekuensinya lebih banyak terjadi pada wanita. Umumnya, uretra adalah tempat infeksi yang paling umum pada laki-laki dan vagina adalah tempat infeksi yang paling umum pada wanita. Cara penularannya terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman atau secara tidak langsung melalui alat mandi seperti handuk dan dudukan toilet.
Gejala infeksi Trichomonas vaginalis pada wanita berupa keputihan berwarna kuning kehijauan, berbau tidak sedap dan pada kasus yang berat cairan dapat berbusa, disertai rasa gatal, panas, nyeri saat kencing dan saat berhubungan seksual yang disertai perdarahan, iritasi dan terkadang sakit pinggang. Sedangkan pada pria biasanya tidak menunjukkan gejala. Kalaupun ada gejala yang muncul umumnya lebih ringan dibandingkan dengan wanita, sepert iritasi di dalam penis, keluar cairan keruh namun tidak banyak, rasa panas dan nyeri setelah berkemih atau setelah ejakulasi.
Berdasarkan penelitian infeksi Trichomonas vaginalis diketahui berhubungan dengan komplikasi pada organ reproduksi, seperti infeksi pasca operasi caesar, infertilitas, dan kelahiran prematur serta diperkirakan dapat meningkatkan risiko penularan HIV dan mengakibatkan keganasan pada serviks (kanker serviks). Oleh sebab itu, infeksi parasit ini harus diterapi dengan baik sampai tuntas.
Terapi Antibiotik
Untuk cairan normal tidak perlu diobati. Yang penting adalah menjaga kebersihan dan cegah kelembaban yang berlebihan pada daerah organ kelamin. Terutama, jika sedang terjadi peningkatan jumlah cairan normal. Sedangkan keputihan yang tidak normal harus segera ditangani agar tidak berakibat yang lebih serius.
Metronidazole (Trogyl®) merupakan antibiotik pilihan pertama dan yang paling baik untuk kasus Trichomoniasis. Metronidazol (Trogyl®) mempunyai spektrum luas dan aktif melawan mikroorganisme patogen seperti Trichomonas vaginalis.
Pemberian metronidazole (Trogyl®) dilakukan secara oral (Trogyl® tablet) atau bila dalam kondisi tertentu pemberian secara oral tidak memungkinkan maka dapat dilakukan secara infus intravena (Trogyl® infus).
Agar efektif terapi ini dilakukan pada kedua pasangan, supaya tidak terjadi infeksi ulang dan dapat meningkatkan persentase penyembuhan sampai dengan 95%. Selama menjalani pengobatan, aktivitas seksual antar pasangan pun harus dihindari hingga pengobatan tuntas.
Pencegahan Keputihan
Tindakan pengobatan pada penderita dilakukan sebagai tindakan pencegahan agar tidak menularkan kepada pasangannya. Selain itu, kebersihan pribadi dan alat-alat toilet pun harus dijaga untuk menghindari penularan secara tidak langsung. Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah keputihan yang tidak normal antara lain :
- • Tidak berhubungan seksual dengan penderita
- • Memakai kondom
- • Tidak berbagi handuk atau pakaian renang
- • Menjaga kebersihan genitalia,membersihkan vagina dengan air bersih yang mengalir dengan cara mengusap dari depan ke belakang.
- • Minimalisir penggunaan sabun antiseptik karena dapat menggangu keseimbangan pH vagina.
- • Mengganti pembalut tepat waktu minimal 3 kali sehari.
- • Memilih pakaian dalam yang tepat, memakai celana yang yang tidak ketat dan menyerap keringat.
- • Menghindarkan faktor risiko infeksi seperti berganti-ganti pasangan seksual, serta pemeriksaan ginekologi secara teratur
- • Jika merasa ada gejala, segera konsultasi ke dokter.
Sumber :
http://www.cdc.gov/std/Trichomonas/Trichomoniasis-Fact-Sheet.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3501/1/06001195.pdf
Kasdu, Dra. Dini, M.Kes. 2005. Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta : Puspa Swara.
Muslim, H. M, M.Kes. 2005. Parasitologi untuk Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
dan lain-lain.







