home > news

Jangan Sepelekan Naiknya Asam Lambung ke Kerongkongan

 Selasa, 7 Juni 2011

 

Asam lambung memegang peranan penting dalam fungsi pencernaan manusia. Asam lambung berperan dalam proses penguraian makanan agar mudah diserap oleh tubuh. Disamping manfaatnya bagi manusia, asam lambung juga bisa menjadi penyebab masalah kesehatan bagi beberapa orang. Selain penyakit maag yang disebabkan oleh peningkatan asam lambung yang berlebihan di dalam lambung, ada penyakit lain yang juga berhubungan dengan asam lambung yaitu ketika asam lambung keluar dari area lambung dan naik hingga ke kerongkongan (esofagus).

 

Asam lambung yang beredar di organ tubuh selain lambung bisa berbahaya dan masalah bagi kesehatan karena tidak memiliki lapisan pelindung seperti halnya lambung, dimana lapisan pelindung tersebut melindungi dinding lambung dari cairan asam dalam lambung. Penyakit akibat aliran balik (refluks) atau naiknya asam lambung beserta makanan yang diurainya dari lambung hingga ke kerongkongan dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah Penyakit Refluks Gastroesofagus (PRGE) atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

 

Sebenarnya peristiwa aliran balik isi lambung dari lambung ke kerongkongan, kadang sesekali dapat dialami oleh seseorang terutama setelah makan tetapi bila kondisi ini sering terjadi dan berulang-ulang yang menyebabkan tanda serta gejala tertentu maka digolongkan sebagai penyakit refluks gastroesofagus atau GERD.   

 

Naiknya asam lambung terjadi karena melemahnya atau tidak berfungsi dengan baik katup pembatas antara kerongkongan dan lambung. Dalam keadaan normal katup ini berfungsi mengatur dan mengunci agar makanan yang masuk ke lambung tidak keluar lagi ke kerongkongan. Tekanan tinggi akibat produksi asam lambung yang berlebihan menjadi salah satu faktor utama kondisi ini. Selain itu, kelainan anatomi seperti kelainan gerakan usus juga bisa menyebabkan naiknya asam lambung ke kerongkongan.

 

Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko naiknya asam lambung diantaranya makanan seperti cokelat, kopi, alkohol, makanan pedas, asam, dan berlemak; obat-obatan misalnya acetylsalicylic acid; obesitas, merokok, pengosongan lambung yang lambat, serta kondisi medis seperti hernia hiatus, sindrom Zollinger-Ellison, hiperkalsemia, dan lain-lain.

Gejala Penyakit Refluks Gastroesofagus

Gejala yang dapat timbul akibat penyakit refluks gastroesofagus antara lain rasa panas terbakar di dada, sendawa, muntah, nyeri di ulu hati, batuk kronis, suara serak, radang tenggorokan, nyeri dada, erosi gigi, kehilangan nafsu makan, tersedak, dan kesulitan menelan makanan. Jika mengalami tanda dan gejala tersebut sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

 

Terapi dan Pengobatan

Aliran balik asam lambung dapat mengiritasi lapisan kerongkongan sehingga menyebabkan radang kerongkongan (esofagitis). Dalam jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi di daerah kerongkongan, seperti peradangan, pendarahan, penyempitan kerongkongan dan bahkan dapat menyebabkan kanker kerongkongan.

Terdapat dua jenis terapi yang dilakukan dalam menangani penyakit refluks gastroesofagus, yaitu perubahan gaya hidup dan penggunaan obat-obatan.

 

Perubahan Gaya Hidup

Penderita penyakit refluks gastroesofagus dianjurkan untuk merubah beberapa kebiasaan yang berhubungan dengan terjadinya gejala refluks gastroesofagus, diantaranya adalah :

  • • Meninggikan posisi kepala saat tidur, gunakan bantal sebagai penyangga dengan tinggi sekitar 15-25 cm di bawah kepala.
  • • Menghindari makanan dan minuman yang dapat menyebabkan naiknya asam lambung seperti cokelat, kopi, teh, makanan berlemak, makanan asam, makanan pedas, bawang merah, bawang putih dan alkohol.
  • • Jangan makan terlalu kenyang dan jangan berbaring setelah makan. Tunggu paling tidak dua hingga tiga jam setelah makan sebelum berbaring atau tidur. Hindari makan larut malam.
  • • Jangan merokok. Merokok dapat merangsang asam lambung dan menurunkan kemampuan katup pembatas kerongkongan dengan lambung untuk berfungsi dengan benar.
  • • Menghindari obat-obatan yang dapat menurunkan tekanan katup pembatas kerongkongan dengan lambung seperti kafein, acetylsalicylic acid dan theophylline.

 

Penggunaan Obat Penghambat Pompa Proton

Selain obat golongan antasid dan antagonis receptor H2 ­untuk menetralkan asam lambung dan menghambat produksi asam lambung, obat golongan penghambat pompa proton juga digunakan dalam menangani penyakit refluks gastroesofagus. Golongan penghambat pompa proton merupakan obat yang paling sering diresepkan. Obat ini terbukti lebih efektif dibandingkan antagonis reseptor H2 untuk terapi kelainan asam lambung seperti penyakit refluks gastroesofagus.

Obat penghambat pompa proton dapat mengurangi gejala pada 83% pasien penyakit refluks gastroesofagus dan mengobati esofagitis erosif sebanyak 78%. Obat golongan ini diantaranya pantoprazole, esomeprazole, omeprazole, rabeprazole dan lansoprazole.

 

Ottozol® Injeksi

Ottozol® injeksi merupakan obat yang diindikasikan untuk terapi penyakit refluks gastroesofagus serta peradangan esofagus akibat refluks (refluks esofagitis) tingkat sedang hingga parah. Ottozol® mengandung pantoprazole yang bekerja dengan cara menurunkan produksi asam lambung dengan menghambat enzim H+­K+ATPase di kelenjar lambung yang bertanggung jawab mensekresi asam lambung.

Ottozol® (pantoprazole) dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh dan memberi efek menekan produksi asam lambung yang dapat bertahan sampai lebih dari 24 jam.

Pada pasien esofagitis erosif karena penyakit refluks gastroesofagus, Ottozol® (pantoprazole) digunakan sebagai terapi jangka pendek. Manfaat pemberian Ottozol® (pantoprazole) adalah berkurangnya iritasi pada lapisan kerongkongan, mengurangi gejala esofagitis seperti rasa panas terbakar di dada dan sendawa serta mempercepat pemulihan luka pada kerongkongan.

 

Sumber :

http://www.pharmainfo.net

http://www.medscape.org

http://www.pswi.org

http://www.medicinenet.com

http://kesehatan.kompas.com

 

Event Bulan Agustus 2014

Partisipasi dalam acara “KONIKA XVI” yang diadakan pada tanggal 25 – 28 Agustus 2014 di Hotel Aryadutha dan Hotel The Aristha, Palembang

read more

Peningkatan Profit dan Produktivitas Kerja yang ditinjau dari Corporate Culture Perusahaan

PT OTTO Pharmaceutical Industries mendapat kesempatan berupa pemaparan program "Peningkatan Profit dan Produktivitas Kerja yang ditinjau dari Corporate Culture Perusahaan" pada hari kamis 12 Juni 2014 di ruang Meeting baru NBL, Lt 2 dari PT Quality Indonesia.

read more

1 2 3 4 30