Jangan Abaikan Radang Telinga, Bisa Sebabkan Tuli
Kamis, 15 September 2011
Apa Anda pernah mengalami telinga terasa nyeri tiba-tiba dan pendengaran jadi berkurang saat sedang kena flu atau radang tenggorokan? Kondisi itu terjadi karena telinga Anda mungkin mengalami radang akibat komplikasi flu atau radang tenggorokan yang Anda derita. Meskipun peradangan tersebut bisa hilang dan fungsi telinga membaik dengan sendirinya seiring dengan sembuhnya penyakit, tetapi kadangkala radang telinga bisa berkembang dan dapat menyebabkan Anda kehilangan pendengaran atau tuli.
Radang telinga atau otitis merupakan bentuk gangguan kesehatan telinga yang patut mendapat perhatian serius. Karena selain dapat menyebabkan gangguan pendengaran atau tuli, jika peradangan sudah mencapai tahap kronis bisa menimbulkan komplikasi yang mematikan.
Radang telinga atau otitis adalah peradangan yang terjadi pada beberapa bagian telinga yaitu telinga bagian luar, tengah maupun bagian dalam. Jenis radang telinga yang umum terjadi dan akan dibahas adalah radang telinga bagian tengah atau otitis media.
Radang Telinga Tengah (Otitis Media)
Radang telinga dapat dialami oleh orang dewasa maupun anak-anak, tetapi kejadiannya lebih banyak dialami oleh anak-anak. Hampir 70% anak-anak pernah mengalami radang telinga tengah dan tidak sedikit yang mengalami gangguan pendengaran akibat penanganan yang terlambat.
Radang telinga tengah (otitis media) adalah peradangan yang terjadi pada telinga bagian tengah, dapat bersifat akut atau kronis. Peradangan di telinga tengah biasanya diawali dengan infeksi pada saluran nafas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga bagian tengah melalui saluran eustachius. Saluran eustachius adalah saluran yang menghubungkan telinga bagian tengah dengan rongga di belakang hidung dan tenggorokan bagian atas.
Pada saluran eustachius terdapat mekanisme pertahanan untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam telinga tengah oleh enzim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki saluran ini. Pada kondisi tertentu, ketika sistem pertahanan tersebut terganggu maka bakteri dari rongga hidung dan tenggorokan pada saat anda terkena pilek atau radang tenggorokan, dapat menjalar masuk ke telinga tengah.
Radang telinga akut (otitis media akut) merupakan keadaan dimana terdapat cairan yang menghambat saluran di dalam telinga yang disertai gejala infeksi oleh bakteri. Ketika bakteri melalui saluran eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran dan terbentuknya nanah di dalam telinga tengah akibat perlawanan sel darah putih terhadap bakteri. Pembengkakan di sekitar saluran eustachius juga menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Otitis media akut ini biasanya terjadi secara tiba-tiba dan berdurasi pendek.
Jika otitis media akut tidak sembuh atau berlanjut lebih dari 2 bulan maka akan berubah menjadi radang telinga tengah kronis (otitis media kronis). Beberapa faktor penyebabnya adalah terapi terlambat, terapi tidak efektif, daya serang kuman tinggi, daya tahan tubuh rendah atau kebiasaan buruk. Kondisi ini dapat merusak telinga tengah dan gendang telinga serta mengurangi pendengaran.

Gambar struktur telinga (umm.edu)
Gejala Klinis
Gejala yang timbul dapat bervariasi pada tingkat keparahan dan usia pasien. Secara umum, gejala yang dapat muncul akibat otitis media antara lain :
Rasa nyeri di telinga, demam, pendengaran berkurang, rasa penuh di telinga, terdapat riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya (batuk, pilek, radang tenggorokan), gelisah, sulit tidur, kejang-kejang, hidung tersumbat, nyeri leher, sakit kepala dan telinga berdenging.
Pada kasus kronis, dari telinga keluar cairan yang menandakan gendang telinga robek atau berlubang akibat cairan yang terlalu banyak dan menekan gendang telinga. Penderita juga bisa mengalami pusing berputar (vertigo) serta infeksi yang dapat menyebar ke otak. Jika infeksi tersebut sampai ke otak dapat berlanjut menjadi radang selaput otak (meningitis) dan abses otak.
Jangan Tunda Pengobatan
Jika merasa mengalami gejala-gejala tersebut diatas, segera periksakan ke dokter agar segera mendapat pengobatan dan mencegah kondisi yang lebih buruk. Pemberian antibiotik menjadi terapi utama dalam mengatasi infeksi telinga. Antibiotik golongan penicillin yaitu amoxicillin (Opimox®) merupakan pilihan pertama antibiotik yang umum digunakan untuk mengatasi infeksi telinga, kecuali jika penderita mempunyai riwayat alergi terhadap penicillin maka akan diberikan alternatif pilihan obat lain seperti obat golongan macrolide (azythromycin, spiramycin (Rovadin®)), cephalosporins (cefixime (Opixime®)) dan trimethoprim-sulfamethoxazole.
Jika pemberian amoxicillin sudah tidak direspon dengan baik oleh penderita maka diberikan kombinasi amoxicillin dan asam clavulanate (Clamixin®). Amoxicillin dan asam clavulanate (Clamixin®) merupakan antibiotik berspektrum luas dalam mengatasi infeksi bakteri. Kombinasi asam clavulanate dengan amoxicillin adalah untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri, terutama resistensi bakteri yang menghasilkan enzim beta laktamase yang dapat menonaktifkan kerja obat penicillin.
Selain obat oral (diminum) juga diberikan tetes telinga yang mengandung antibiotik, tergantung kondisi penderita.
Menjaga Daya Tahan Tubuh dan Kebersihan Diri, Hindari Infeksi Telinga
Meskipun radang telinga ini bisa disembuhkan tetapi mengingat penyakit ini dapat membuat Anda kehilangan pendengaran serta komplikasi yang berakibat kematian maka sebaiknya mulai menjaga dan memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan telinga Anda.
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah atau mengurangi risiko terjadinya radang telinga adalah menjaga pola hidup sehat, usahakan jangan sampai terjadi infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan makan makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh serta kebersihan diri seperti mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air. Menjaga kebersihan udara khususnya di rumah dengan ventilasi yang cukup dan hindari asap rokok.
Jangan membersihkan telinga dengan benda yang ujungnya keras seperti kapas bertangkai atau cotton buds, kebiasaan ini memang sudah umum di masyarakat tetapi ternyata cara ini kurang baik dilakukan. Cotton buds dapat mendorong kotoran masuk lebih dalam lagi ke dalam telinga dan dapat melukai gendang telinga sehingga menyebabkan radang telinga. Cukup bersihkan telinga di bagian muara telinga dan daun telinga, karena kotoran telinga pada dasarnya dapat keluar sendiri dengan bantuan bulu-bulu halus di dalam telinga. Jika kotoran tidak dapat keluar dan mengeras sebaiknya datang ke dokter ahli THT untuk mengeluarkannya.
Sumber :
http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1keperawatan/206312042/bab2.pdf
http://www.medicinenet.com/ear_infection/page2.htm#8whatis
http://www.umm.edu/altmed/articles/otitis-media-000121.htm
http://cat.inist.fr/?aModele=afficheN&cpsidt=14514615
Block, Stan L., M.D and Christopher J. Harrison, MD. 2005. Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. USA : Professional Communications, Inc.
Informasi Terkait :







