home > news

Demam Tifoid, Akibat Makanan Kurang Bersih

Selasa, 25 Oktober 2011


Berhati-hatilah jika membeli makanan di luar rumah, di pinggir jalan atau toko yang kurang terjamin kebersihannya. Kalimat ini mungkin sudah sering kita dengar atau bahkan kita sendiri sudah menyadari akan pentingnya memilih makanan yang tidak hanya sehat tetapi juga terjamin kebersihannya. Namun, seringkali kita melupakan hal ini dengan alasan kegiatan yang terlalu padat sehingga tidak ada waktu memilih tempat makan yang bersih atau karena makanan di tempat makan tersebut enak meskipun kebersihannya sebenarnya kurang terjamin. Makanan memang sangat menentukan kelangsungan hidup dan kesehatan kita. Jika salah memilih makanan, alih-alih menjadi sehat, penyakit justru datang menghampiri.

 

Penyakit akibat makanan (food borne disease) terjadi jika kita makan atau minum bahan yang sudah tercemar oleh bakteri, virus, dan racun dalam makanan yang timbul secara alamiah, dicampurkan secara sengaja dan juga kebersihan yang kurang diperhatikan. Gejala yang timbul bervariasi tergantung penyebab, dapat berupa diare, mual, muntah, sakit perut atau demam. Dan salah satu penyakit akibat makanan yang sering terjadi antara lain adalah demam tifoid yang terjadi akibat bakteri Salmonella typhii.


Demam Tifoid atau Tifus Abdominalis

Demam tifoid atau tifus abdominalis merupakan penyakit yang masih terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana kebersihan masih kurang diperhatikan. Di Indonesia penyakit ini juga masih sering terjadi, begitu umumnya masyarakat Indonesia sering menyebut

penyakit ini dengan demam tifus atau tifus saja.

 

Demam tifoid banyak menginfeksi anak - anak usia sekolah, remaja, dan dewasa. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kebiasaan membeli makanan di luar dengan kebersihan yang tidak terjamin.

 

Demam tifoid ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh Salmonella typhii. Saat Salmonella typhii masuk ke dalam tubuh, Salmonella typhii akan berkembang biak dan menyebar masuk ke dalam aliran darah. Pada kondisi ini tubuh akan bereaksi dengan timbulnya demam serta gejala-gejala klinis lainnya.

 

Bakteri Salmonella typhii


Gejala Klinis

Gejala demam yang timbul akibat demam tifoid berbeda dengan demam akibat penyakit lainnya. Demam tifoid timbul 7-14 hari setelah kuman masuk ke dalam tubuh. Suhu penderita umumnya naik pada sore hingga malam hari dan turun pada pagi hari. Suhu tubuh penderita demam tifoid dapat mencapai 390C - 400C.

 

Selain demam, gejala yang umum muncul pada penderita demam tifoid adalah lemas, nyeri perut, susah buang air besar atau diare, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, mual, muntah dan kadang terlihat bintik-bintik kemerahan pada kulit. Komplikasi yang dapat timbul bila gejala tidak ditangani dengan baik sejak awal adalah perdarahan usus, usus berlubang (perforasi) dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Untuk memastikan penyakit demam tifoid perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung diagnosa dari gejala-gejala klinis yang terlihat.

 

Pengobatan Demam Tifoid

Selama perawatan penderita demam tifoid harus istirahat total (bedrest), tidak boleh duduk, berdiri atau jalan-jalan sampai demamnya turun. Hal ini dilakukan untuk mencegah komplikasi terutama pendarahan dan perforasi.

Sedangkan makanan harus mengandung kalori (karbohidrat) dan protein yang cukup, tetapi rendah serat untuk mencegah pendarahan. Jenis makanan yang diberikan dapat dalam bentuk cair, bubur, lunak, tim dan nasi biasa.

 

Pemberian obat antibiotik (anti mikroba) segera diberikan setelah diagnosa ditetapkan sebagai terapi awal. Chloramphenicol (Palmicol®) merupakan antibiotik pilihan pertama dan umum digunakan untuk menangani demam tifoid. Selain chloramphenicol, alternatif lain antibiotik lini pertama untuk demam tifoid  adalah thiamphenicol (Opiphen®), ampicilin atau amoxycilin (Opimox®) dan trimetroprim-sulfametoksazol.

 

Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif maka dapat diganti dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua. Antibiotik lini kedua untuk demam tifoid adalah golongan sefalosporin generasi III seperti cefixime (Opixime®), golongan fluoroquinolone seperti ciprofloxacine (Tequinol®) dan lain-lain. Pemberian obat-obatan tersebut tergantung pada kondisi tiap penderita yang kemungkinan resisten terhadap antibiotik tertentu dan hasil pemeriksaan kondisi pasien.

 

Mencegah Demam Tifoid       

Penularan demam tifoid berkaitan erat dengan kondisi sanitasi dan kebersihan diri (personal hygiene). Kondisi sanitasi yang tidak sehat dan pembuangan air kotoran yang tidak memenuhi syarat menjadi faktor utama dalam penyebaran penyakit ini.

Saat ini sudah terdapat vaksinasi untuk mencegah demam tifoid tetapi dengan biaya yang cukup mahal. Namun, Anda masih bisa melakukan pencegahan penyakit dengan cara yang jauh lebih murah serta dapat dilakukan setiap hari yaitu dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah demam tifoid antara lain :

  • • Hindari membeli jajanan di pinggir jalan yang kebersihannya kurang terjamin, karena rentan terhadap kontaminasi debu, asap kendaraan bermotor atau serangga seperti lalat yang membawa penyakit.
  • • Budayakan mencuci tangan. Sesudah ke toilet, mengganti popok, sebelum makan atau menyiapkan makanan, cucilah tangan dengan teliti memakai sabun dan air mengalir setidaknya 15 detik, lalu keringkanlah dengan handuk bersih. Tidak sulit kan untuk mencuci tangan sebelum makan dan mengolah makanan serta setelah dari toilet? Tanpa disadari, mencuci tangan terutama dengan air mengalir dan sabun dapat menghindarkan kita dari berbagai penyakit yang memakan biaya dan berisiko menimbulkan komplikasi.
  • • Mencuci alat makan dan bahan makanan dengan air bersih dan masak air untuk minum serta makanan hingga matang sebelum dikonsumsi.
  • • Tidak memakai serbet pengering piring untuk menyeka tangan atau meja dan serbet harus sering diganti.
  • • Makanan sebaiknya ditutupi sebelum disimpan di dalam lemari es bawah maupun atas atau di lemari agar terhindar dari pencemaran oleh debu atau serangga. Makanan mentah disimpan tertutup atau dalam tempat bertutup di bawah makanan lain yang sudah siap agar bagian makanan atau cairan daging tidak menumpahi atau menetesinya.

 

Sumber :

http://emedicine.medscape.com/article/231135-medication

http://www.cdc.gov/nczved/divisions/dfbmd/diseases/typhoid_fever/

Tapan, Eric. 2004. Flu, HFMD, Diare pada Pelancong, Malaria, Demam Berdarah, Tifus. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

 

 

 

 

 

 

 

The 8th Asia Pasific Conference On Diabetic Limb Problem

OTTO participated in The 8th Asia Pasific Conference On Diabetic Limb Problem which was held on December 16th-17th, 2011 at Holiday Inn Hotel, Bandung-Indonesia.

read more

KONIKA XV (15th Indonesian Congress of Pediatrics) 2011

OTTO participated in KONIKA XV which was held on July 8th – 14th, 2011 at Grand Kawanua International City, Manado-Indonesia.

read more

1 2 3 4 24